Di era digital, informasi datang tanpa henti. Berita, opini, potongan video, dan potret realitas bercampur dalam satu layar yang sama. Masalahnya bukan pada kurangnya informasi, tetapi pada ketiadaan literasi untuk memahaminya.
Inilah mengapa literasi media menjadi keterampilan penting hari ini. Bukan sekadar bisa membaca, tetapi mampu berpikir, memilah, dan memahami konteks di balik setiap informasi yang kita konsumsi.
Banjir Informasi Tidak Selalu Berarti Kaya Pengetahuan
Banyak orang merasa “tahu banyak” hanya karena sering terpapar informasi. Padahal, paparan tanpa pemahaman justru menciptakan ilusi pengetahuan.
Akibatnya:
- Mudah terpancing emosi
- Cepat mengambil kesimpulan
- Sulit membedakan fakta dan opini
Literasi media hadir untuk mengisi celah ini—membantu kita berpikir sebelum bereaksi.
Berpikir Adalah Proses, Bukan Reaksi Cepat
Media sosial mendorong kecepatan: cepat klik, cepat marah, cepat membagikan. Namun berpikir tidak bekerja dengan cara yang sama.
Berpikir membutuhkan:
- Jeda
- Konteks
- Pertanyaan kritis
Literasi media mengajarkan satu hal penting: tidak semua yang viral itu penting, dan tidak semua yang penting itu viral.
Peran Media dalam Membentuk Cara Kita Melihat Dunia
Media tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membentuk cara pandang. Pilihan kata, sudut pandang, dan framing menentukan bagaimana sebuah peristiwa dipahami.
Tanpa literasi, kita mudah menerima narasi mentah. Dengan literasi, kita mulai bertanya:
- Siapa yang berbicara?
- Apa kepentingannya?
- Apa yang tidak disampaikan?
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang membuat seseorang berpindah dari konsumen pasif menjadi pembaca yang sadar.
Literasi Media sebagai Bentuk Kedewasaan Berpikir
Literasi media bukan soal menjadi paling benar, tetapi menjadi lebih bijak. Ia mengajarkan bahwa dunia tidak hitam-putih, dan kebenaran sering kali memiliki lapisan.
Orang yang literat media:
- Tidak mudah terprovokasi
- Tidak cepat menghakimi
- Lebih tahan terhadap manipulasi
Ini bukan soal kecerdasan tinggi, melainkan kebiasaan berpikir yang sehat.
Penutup
Di tengah arus informasi yang deras, kemampuan berpikir adalah jangkar. Literasi media membantu kita tetap waras, tenang, dan manusiawi.
Bukan siapa yang paling cepat bereaksi yang akan bertahan, tetapi siapa yang mampu berpikir paling jernih.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar