Di era digital, keberadaan sering diukur dari kebisingan. Siapa yang paling sering muncul, paling keras berbicara, dan paling cepat merespons dianggap paling relevan. Namun di tengah kebisingan ini, muncul satu sikap yang kian langka: sunyi.
Sunyi bukan ketidakhadiran, melainkan pilihan sadar untuk tidak larut.
Kebisingan sebagai Standar Baru
Media sosial mendorong kehadiran konstan. Diam sering disalahartikan sebagai tidak tahu, tidak peduli, atau tidak punya pendapat.
Padahal, tidak semua hal perlu ditanggapi. Tidak semua opini perlu dibalas. Tidak semua peristiwa menuntut reaksi.
Sunyi memberi ruang bagi pemikiran yang utuh.
Sunyi Bukan Lari, Tapi Menjaga Diri
Memilih sunyi bukan berarti apatis. Ia justru bentuk perlindungan terhadap kesehatan mental dan kejernihan berpikir.
Dalam sunyi, seseorang bisa:
- Menyaring informasi
- Mengenali emosi sendiri
- Memahami sebelum berbicara
Sunyi adalah jeda yang memungkinkan kita tetap waras.
Perlawanan yang Tidak Terlihat
Di dunia yang mendorong reaksi instan, memilih untuk tidak bereaksi adalah bentuk perlawanan yang halus.
Ia tidak viral, tidak heroik, tetapi menjaga integritas.
Sunyi melawan algoritma dengan cara paling sederhana: tidak memberi perhatian pada hal yang tidak layak mendapatkannya.
Penutup
Sunyi bukan kelemahan. Ia adalah kekuatan yang bekerja dalam diam.
Di tengah dunia yang terus berteriak, mungkin keberanian terbesar adalah tetap tenang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar